TUGAS MAKALAH
IMAN KEPADA NABI DAN RASUL
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tauhid
Dosen Pengampu : Dr. H. Sangkot Sirait M.Ag
Disusun Oleh :
Wardah
Hanifah Ramadhani 17104010068
Shanti
Nur An-nisa 17104010086
PAI
B
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2017
Pendahuluan
Beriman kepada Rasul merupakan rukun
iman ke empat yang menjadi salah satu penentu keimanan dari rukun iman yang
enam. Dalam al-Qur’an Allah telah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta Kitab
yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah,
Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan Hari Kemudian, maka
sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ ayat 136).
Ayat ini menunjukkan bahwa iman
kepada Rasul merupakan suatu keharusan yang menunjukkan tingkat keimanan kita,
jika kita tidak mengimaninya maka kita termasuk orang-orang yang sesat. Banyak
cara yang bisa kita lakukan untuk mengimplementasikan rasa cinta dan keimanan
kita kepada Nabi dan Rasul. Selain itu beriman kepada Rasulullah SAW merupakan
konsekuensi dari pemahaman bersyahadat, “Aku
bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”. Konsekuensi dari
syahadat tersebut adalah mematuhi apa yang diperintahkan Rasulullah,
mempercayai apa yang disampaikannya dan menjauhi apa yang beliau larang. Semakin
jelas bahwa beriman kepada Nabi dan Rasul adalah suatu kewajiban dalam Islam.
Pengertian Iman
Secara etimologi, iman berarti tashdiq (membenarkan). Allah berfirman
tentang saudara-saudara Yusuf,
ۖ وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا
وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ [١٢:١٧]...
“dan
kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah
orang-orang yang benar.” (QS. Yusuf : 17)
Iman juga dipakai untuk makna ta’min (mengamankan). Allah berfirman :
الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ [١٠٦:٤]
“Yang telah memberi makanan kepada
mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Quraisy : 4)
Secara
terminologi, iman menurut para ulama adalah:
“Ucapan dengan
lisan, keyakinan dengan hati dan pengamalan dengan anggota badan, bertambah
karena taat dan berkurang karena maksiat.”[1]
Nabi Muhammad
saw bersabda yang artinya :
“Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, para
malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, dan engkau beriman dengan
takdir, yang baik dan yang buruk.”(HR. Muslim)
Iman adalah
keyakinan dan amal sekaligus. Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا
بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ [٤٩:١٥]
“Sungguh, orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa
mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”(QS. Al-Hujurat : 15).
Dari
ayat ini kita bisa melihat bahwa iman yang diterima dan konsisten adalah
keyakinan yang tidak tercampur keraguan-yakni, amal yang terlukis dalam jihad
dengan harta dan jiwa di jalan Allah. Sebab, keyakinan dalam hati saja tidak
cukup untuk diterimanya iman. Jika kedudukan ilmu ditentukan oleh kedudukan
objeknya, maka ilmu iman adalah suatu ilmu yang berkaitan dengan pengenalan
kepada Allah, Rasul dan agama Allah. Jika makna penting dari suatu amal
disesuaikan dengan kemanfaatan yang akan dinikmati oleh seseorang, maka ilmu
iman akan mewujudkan kebahagiaan dan kemenangan besar kepada manusia, baik di
dunia maupun di akhirat.[2]
Iman memiliki tujuh puluh sekian cabang, dari Abu
Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Iman
(memiliki) tujuh puluh sekian cabang. Yang paling utama ialah ucapan ‘Laa
Illaaha illa Allah’, dan yang paling rendah ialah meningkirkan gangguan dari
jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim)
Iman memiliki
rasa, kelezatan dan hakikat.
a.
Rasa
iman diterangkan oleh Nabi saw dalam sabdanya:
“Akan
mencicipi rasanya iman orang yang rela menjadikan Allah sebagai Rabb, Islam
sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul.” (HR. Muslim)
b.
Kelezatan
iman diterangkan Nabi saw dalam sabdanya:
“Tiga perkara yang apabila ada pada
diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan
Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang,
dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada
kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka.” (Muttafaq ‘alaih)
c.
Hakikat
iman dapat diraih oleh orang yang telah memiliki hakikat agama yaitu
melaksanakan tugas-tugas agama, berupa ibadah, dakwah, hijrah, menolong agama,
jihad maupun infaq.
Allah swt berfirman:
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta
berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan
memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang
yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang
mulia.” (QS. Al-Anfaal: 74)
Sempurnanya iman seseorang dapat diukur dari rasa cintanya kepada Allah dan
Rasul-Nya. Dari Abu Umamah ra dari Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa mencintai karena
Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan menolak (untuk memberi)
karena Allah maka sungguh ia telah menyempurnakan iman.” (HR. Abu Daud, hadis hasan)
Berikut beberapa perilaku iman:
1.
Mencintai
Rasulullah saw
2.
Mencintai
orang-orang Anshar
3.
Mencintai
orang-orang beriman
4.
Mencintai sesama
muslim
5.
Memuliakan
tetangga dan tamu, serta berbicara yang baik saja
6.
Amar ma’ruf dan nahi munkar
7.
Memberi
nasihat
Iman kepada Nabi
dan Rasul
Manusia diciptakan oleh Allah
dengan tujuan menjadi khalifah di muka bumi. Tetapi fakta bahwa manusia adalah makaanul
khotto’ wa nisyaan menjadikan perlu adanya pemimpin yang menjadi pusat
informasi hubungan antara manusia dengan Allah swt, maka diutuslah Nabi dan Rasul sebagai
pemimpin sejati bagi umat manusia.
Para nabi dan rasul adalah pemimpin
kebenaran dan tonggak ketaqwaan yang telah dipilih Allah dari seluruh
makhluk-Nya. Mereka adalah suri tauladan yang sempurna, tanda keagungan Allah,
serta panutan bagi orang yang teguh dan yang merenungi kebesaran-Nya. Jalan
hidup mereka menggambarkan keimanan yang nyata dengan berbagai bentuknya,
seperti kesabaran, keberanian, pengorbanan, dan penebusan. Allah berfirman, “Sungguh,
pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai
akal,” (QS. Yusuf [12] : 111).
Ibnul Qayyim menyebutkan tentang
kebutuhan manusia yang mendesak terhadap keberadaan para Nabi dan Rasul sebagai
berikut, “Kebutuhan manusia terhadap
mereka jauh lebih tinggi daripada kebutuhan badan terhadap ruh, mata terhadap
cahaya, dan jiwa pada kehidupannya. Kebutuhan dan keperluan manusia terhadap
para rasul jauh lebih besar dibanding segala kebutuhan yang diperlukannya.”
Nabi dan Rasul memiliki perbedaan, pendapat yang populer
dikalangan ulama adalah tanggung jawab Rasul lebih luas
cakupannya daripada Nabi.
Rasul adalah orang yang diberi wahyu dengan syariat tertentu dan diperintahkan
untuk menyampaikannya, sedangkan Nabi adalah orang yang diberi wahyu
dengan syariat tertentu dan tidak diperintahkan untuk menyebarkannya. Dalam
kitabnya, ar-Rusul wa ar-Risalat, Syaikh Umar al-Asyqar mengutamakan
pendapat bahwa Rasul
adalah orang yang diberi wahyu dengan syariat baru, sedangkan Nabi adalah yang
diutus untuk memantapkan syariat Nabi sebelumnya. Demikian yang dinukil
dari Tafsir al-Alusi.[3]
Arti iman kepada Rasul
1.
Membenarkan
dengan penuh keyakinan bahwa Allah telah mengutus Rasul kepada tiap-tiap umat,
untuk mengajak mereka menyembah Allah semata, mengingkari sesembahan lain selain
Dia.
2.
Meyakini
bahwa mereka semua adalah para utusan yang jujur dan telah menampaikan semua
risalah yang ditugaskan oleh Allah kepada mereka.
Allah
mengutus Rasul di muka bumi ini tentu bukan tanpa tujuan. Tujuan Allah mengutus
mereka adalah untuk menyampaikan kepada umat manusia bahwa tidak ada Illah yang
berhak disembah kecuali Allah swt, sebagaimana yang telah diterangkan Allah
dalam al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 25 :
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ
إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ [٢١:٢٥]
“Dan Kami tidak mengutus seorang
rasulpun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan
kepada mereka, bahwa tidak ada Illah (yang berhak disembah) selain Aku, maka
sembahlah Aku.”
Sifat para Nabi dan Rasul:
1.
Seluruh
Nabi dan Rasul adalah laki-laki dari bangsa manusia
“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali
orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada
orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (QS. An-Nahl: 43)
“Kami tiada mengutus rasul rasul
sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri
wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu,
jika kamu tiada mengetahui.”
(QS. Al-Anbiya : 7)
2.
Para Nabi
dan Rasul adalah manusia biasa
Mereka makan (QS.
Al-Furqon : 20), minum, lupa, tidur, menikah
dan memiliki keturunan (QS.
Ar-Ra’d : 38), sakit dan bahkan mati.
Sebagaimana layaknya manusia, mereka tidak sedikit pun memiliki sifat
ketuhanan. Mereka tidak mengetahui perkara ghaib kecuali yang ditunjukkan oleh
Allah kepada mereka (QS. Al-A’raaf: 188).
Para
ulama mengatakan bahwa jumlah Nabi seluruhnya ada 124.000 orang. Namun hanya
Allah-lah yang mengetahui berapa banyak jumlahnya (QS. Al-Mu’min: 78), adapun
dari semua itu yang diangkat menjadi Rasul ada 313 orang, namun Nabi dan Rasul
yang wajib kita ketahui hanya berjumlah 25 orang, sebagaimana yang telah
disebutkan dalam Al-Qur’an.
Nama 25 Nabi
dan Rasul yang wajib kita ketahui :
1.
Nabi
Adam as
2.
Nabi
Idris as
3.
Nabi
Nuh as
4.
Nabi
Hud as
5.
Nabi
Sholeh as
6.
Nabi
Ibrahim as
7.
Nabi
Luth as
8.
Nabi
Ismail as
9.
Nabi
Ishaq as
10. Nabi Yakub as
11. Nabi Yusuf as
12. Nabi Ayyub as
13. Nabi Syuaib as
14. Nabi Musa as
15. Nabi Harun as
16. Nabi Zulkifli as
17. Nabi Daud as
18. Nabi Sulaiman as
19. Nabi Illyas as
20. Nabi Illyasa as
21. Nabi Yunus as
22. Nabi Zakariya as
23. Nabi Yahya as
24. Nabi Isa as
25. Nabi Muhammad saw
Dari
25 nama Nabi dan Rasul tersebut diatas ada 5 orang yang dikenal sebagai Rasul
Ulul Azmi. Menurut pendapat yang populer, kelompok Ulul Azmi adalah Muhammad,
Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa. [4]
Allah telah menyebutkan mereka dalam QS. Al-Ahdzab
[33] ayat 7 yang artinya, “Dan
Ingatlah ketika kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu sendiri,
dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari
mereka perjanjian yang teguh.”
Perbedaan Rasul
dengan Pemimpin pada Umumnya
Yang membedakan antara seorang Rasul
dengan para pemimpin dan orang-orang sholeh dan yang menunjukkan kelebihan atas
mereka adalah “ilmu” yang diterima Rasul dari Allah yang dengan itu ia memberi
petunjuk kepada manusia kepada jalan yang lurus.[5]
Para pemimpin tidak memiliki yang
seperti ini, mereka membangun pemikiran-pemikiran mereka sendiri, pun pandangan
mereka ini tidak lepas dari kekurangan yang berupa unsur-unsur hawa nafsu, maka dari itu akidah-akidah yang
mereka tegakkan, undang-undang yang mereka ciptakan dan metodologi ilmiah yang
mereka lakukan tidak selamanya benar dan terbebas dari kekeliruan.
Berbeda dengan Rasul, mereka diberi
ilmu hikmah dan pemikiran oleh Allah swt, mereka memberi petunjuk kepada
manusia bukan berdasar dugaan dan hawa nafsu, melainkan memberi petunjuk jalan
yang lurus dari apa yang telah Allah berikan kepada mereka, misalnya
wahyu-wahyu yang diturunkan kepada mereka.
Keistimewaan
Nabi dan Rasul
Para
Nabi dan Rasul adalah manusia ang sangat suci hatinya, cerdas akalnya,
sungguh-sungguh imannya, paling baik akhlaknya, sempurna agamanya, kuat
ibadahnya, sempurna tubuhnya dan bagus bentuk fisiknya. Allah juga memberi
mereka beberapa keistimewaan. Antara lain:
1.
Allah
memilih mereka untuk diberikan wahyu dan kerasulan (QS. Al-Hajj: 75 dan QS.
Al-Kahfi: 110)
2.
Terpelihara
dari kesalahan didalam menyampaikan syariat Allah –baik aqidah maupun hukum-
kepada umat manusia. Kalaupun mereka melakukan kesalahan maka Allah langsung
menegur dan mengarahkan mereka kepada kebenaran. (QS. An-Najm: 1-5)
3.
Setelah
mereka wafat, harta benda mereka tidak diwarisi oleh kerabatnya.
Dari Aisyah ra ia berkata bahwa Rasulullah saw
bersabda:
“(Harta
pusaka) kami (para Nabi dan Rasul) tidaklah diwarisi; apa yang kami tinggalkan
adalah sedekah.” (Muttafaq
‘alaihi)
4.
Tatkala
mata mereka tertidur, hati mereka tidak tidur
Dari Anas ra dalam kisah tentang peristiwa Israa’
disebutkan: “Sementara mata Nabi saw
kedua tertidur, namun hatinya tidak tidur. Begitu pula para Nabi (yang lain).
Mata mereka (bisa) tertidur, tetapi hati mereka tidak tidur.” (HR.
Al-Bukhari)
Kewajiban terhadap Risalah Rasulullah
saw:
a. Membenarkan
apa yang dikabarkannya
“Dan orang yang membawa
kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang
bertakwa.”(QS. Az-Zumar : 33)
b. Mentaati
semua perintahnya
“Hai orang-orang yang
beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan
(pahala) amal-amalmu.” (QS. Muhammad : 33)
c. Menjauhi
apa yang dilarangnya
“Apa yang diberikan
Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka
tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras
hukumannya.”
(QS. Al-Hasyr : 7)
d. Mengikuti dalilnya
“Hai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS.
An-Nisa’ : 59)
Kesuksesan
Dakwah Rasulullah
1.
Telah
memberantas penyembahan berhala dan kedudukannya diganti dengan iman kepada
Allah dan hari akhir.
2.
Memberantas
kekerdilan dan kekurangan orang-orang jahiliyah dan kedudukannya diganti dengan
keutamaan, kemuliaan, dan etika yang baik.
3.
Menegakkan
agama islam yang mengantarkan manusia pada tujuan yang baik dan sempurna.
4.
Mencetuskan
revolusi besar yang mampu mengubah undang-undang, rasio, hati, dan tatanan
hidup yang dijadikan pegangan dan standar orang-orang jahiliyah.
5.
Menyatukan
orang-orang arab dan mendirikan Negara yang kuat dibawah naungan panji
Al-Qur’an.
Kesuksesan tersebut merupakan
mukjizat yang sangat besar bagi Rasulullah, jika dibandingkan, Nabi Isa
memperoleh mukjizat dapat menghidupkan orang mati dan Nabi Musa memperoleh
mukjizat tongkat, keduanya tidak lebih hebat dari mukjizat yang diperoleh
Rasulullah.
Hikmah diutusnya para Nabi dan Rasul
1.
Mengajak
manusia untuk menyembah Allah swt saja dan melarang mereka menembah selain-Nya
(QS. An-Nahl: 36)
2.
Menunjukkan
jalan menuju Allah swt (QS. Al-Jumu’ah: 2)
3.
Menjelaskan
keadaan manusia setelah menghadap Tuhannya pada hari Kiamat (QS. Al-Hajj:
49-51)
4.
Menegakkan
hujjah atas umat manusia, sehingga mereka tidak memiliki alasan untuk tidak
menyembah Allah swt (QS. An-Nisaa’: 165)
5.
Sebagai
rahmat (QS. Al-Anbiyaa’: 107)
Konsekuensi Keimanan kepada Rasul
1.
Patuh
dan taat kepada Rasul
2.
Mengimani
dakwah universal Nabi Muhammad saw
3.
Mengimani
telah sempurnya agama yang dibawa Nabi Muhammad saw
4.
Mengimani
agama ang dibawa Nabi Muhammad saw telah menghapus agama-agama terdahulu
5.
Mengimani
bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para Nabi
Daftar Pustaka
Al-Qur’an
al-Karim
Syaikh Muhammad
bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri, Ensiklpedi
Islam Kaffah, Surabaya: Pustaka YASSIR, 2012
Abdullah bin
Fahd As-Sallum, Keajaiban Iman, Surabaya
: Pustaka YASSIR, 2008
Abdul Majid Az-Zandany, Al-Iman, Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar, 1990
Sami bin Abdullah Al-Maghlout, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Jakarta: Almahira, 2008
Sayid Sabiq, Akidah
Islam, Surabaya: Al Ikhlas, 1996
Abul Ala Maududi, Dasar-dasar
Iman, Bandung: Pustaka, 1986

Komentar
Posting Komentar