Teks tajuk
rencana
Diet Kantong Plastik
Jangan Berhenti
5
Oktober 2016 1:07 WIB
Program kantong plastik berbayar tak lagi berjalan. Toko-toko ritel modern
menghentikan program tersebut mulai bulan ini. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia
(Aprindo) memilih menyetop program itu lantaran belum adanya payung hukum yang
menjadi dasar kuat. Program berlandaskan Surat Edaran Dirjen Pengelolaan
Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya di Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan tersebut dianggap lemah. Kebijakan itu pun menuai kontroversi.Pihak peritel modern yang menerapkan kantong plastik berbayar dengan nominal berbeda-beda dianggap melakukan pungutan liar. Akibatnya sebagian peritel yang menerapkan program tersebut menerima ancaman akan diperkarakan secara hukum. Surat Edaran Dirjen diangap banyak kelemahan. Apalagi di beberapa pemerintah daerah telah menerbitkan perda tentang limbah kantong plastik, yang isinya tidak segaris dan sejalan dengan surat edaran tersebut.
Penerapan kantong berbayar selama uji coba 22 Februari hingga 31 Mei berdampak positif dengan penurunan penggunaan kantong plastik sebesar 25- 30 persen. Berdasarkan evaluasi dari kementerian, atas penurunan sebesar itu, sebanyak 87,2 persen masyarakat menyatakan dukungan dan 91,6 persen bersedia membawa kantong plastik dari rumah. Peritel modern ada yang menjual Rp 200 per lembar, Rp 1.000 per lembar, namun ada pula yang sama sekali tak memungut biaya.
Pada masa uji coba yang berakhir 31 Mei kemudian diperpanjang lagi mulai 1 Juni, masyarakat luas memberikan respons hangat. Dukungan atas program ramah lingkungan tersebut menguat. Tidak hanya di pasar modern, pedagang di pasar tradisional banyak yang menerapkan program pengurangan penggunaan kantong plastik. Pertanyaannya, apakah besarnya dukungan dalam evaluasi kementerian itu berbanding lurus dengan kebiasaan konsumen saat berbelanja di ritel modern?
Sejatinya harapan dari program itu adalah menggugah kesadaran publik untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Masyarakat menjadi lebih peduli bahwa kantong plastik sekali pakai membahayakan lingkungan, menyumbat saluran, susah terurai, mencemari udara, dan berbahaya bagi kesehatan ketika digunakan sebagai wadah makanan. Apabila konsumen ketika berbelanja tidak menyadari potensi bahaya, program tersebut belum menunjukkan indikasi keberhasilan.
Kita peduli dan mendukung kampanye diet kantong plastik terus berlanjut. Harapannya, bukan saja terjadi penurunan besar penggunaan kantong plastik, tetapi masyarakat termasuk peritel semakin peduli dampak dari limbah plastik. Melihat hasil evaluasi pada masa uji coba kantong plastik berbayar, ada baiknya pemerintah segera merespons dengan menerbitkan payung hukum yang kuat. Merilis peraturan menteri tentang kantong plastik tidak gratis, merupakan sikap responsif pemerintah.
Sumber :
http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/diet-kantong-plastik-jangan-berhenti/
Komentar
Posting Komentar