Nama : Shanti Nur A
Kelas : XI MIA 6
Dakwah Media Sosial
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Rabbisyrahlii shadrii wa yasirlii amri wahlul
uqdatamminlisaani yafqahu qauli. Asyhadu anla ilaaha illallah wahdahula
syariikalahu, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuuluhu laa nabiyya
ba’dahu. Allahummaasholli wa sallim wa baarik ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aalihi
wa ash haabihi ajma’in, amma ba’du.
Hadirin rahimakumullah, marilah kita panjatkan puji
syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan berbagai
kenikmatan yang tak terhingga kepada kita dan telah menunjukkan kita pada jalan
kebenaran.
Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada
nabi terakhir, nabi Muhammad shaalallahu ‘alaihi wa sallam karena beliaulah
yang telah membawa jalan yang terang ini hingga ke pelosok dunia, sehingga kita
sampai saat ini berada dalam kesejukkan dan kedamaian islam.
Teman-teman rahimakumullah, izinkanlah saya disini
untuk mmenyampaikan sepotong tausiyah tentang dakwah di zaman yang super
canggih ini.
“Dakwah Media Sosial”
Temen-temen ada yang punya media social nggak? Eh,
salah pertanyaan nih, yang bener ada nggak temen-temen yang belum punya media
social? Ada? Yang bener aja? Pasti sudah pada punya kan yaa? Minimal punya
facebook lah.
Tapi, temen-temen tahu nggak sih apa tuh media social?
Media social adalah saluran atau sarana pergaulan social secara online di dunia
maya, media social yang popular di kalangan remaja Indonesia, antara lain ada
buku muka alias Facebook, ada burung berkicau alias Twitter, ada Instagram, ada
Whatsapp, ada Line, ada BBM, ada Path, dan masih banyak lagi. Biasanya mereka
akan posting status mereka di medsos. Galau di putusin do’i langsung post,
seneng abis di tembak gebetan langsung post, sedih karena nasib jomblo langsung
post, di tikung sahabat langsung post, nilai anjlok langsung post, lagi ada
masalah sama ortu langsung post, ini itu langsung post. Tanpa kita sadari kita
telah terjatuh dalam pesona media social dengan memposting sesuatu yang tidak
ada manfaatnya, ada juga mereka yang malah mengumbar-umbar aib temen kita atau
bahkan aibnya sendiri dipublikasikan, ampun deh. Dan kita malah menjadikan
media social sebagai tempat kita mencurahkan segala perasaan dan melupakan Allah yang seharusnya jadi tempat
kita curhat. Astaghfirullah..
Teman-teman rahimakumullah, ingat tempat kita curhat
tuh bukan di media social, tapi kepada Allah lah kita curhat, Dia lah yang
memiliki kuasa penuh pada kita, bukan Facebook bukan pula Twitter yang punya
kuasa atas kita. Jadi buat apa kita posting di media social kalau mereka nggak
bisa menyelesaikan masalah kita? Selain itu banyak dari kita yang sampai saat
ini belum bisa memanfaatkan media social untuk menyebar kebaikan. Daripada
menyebar aib yang malah bikin dosa mending nyebar dakwah yang malah bikin
pahala. Yaa nggak tuh? Iyalah.
Teman, jika kita ini remaja cerdas, pastilah kita tahui
bagaimana mempergunakan media social dengan benar, bagaimana memanfaatkan akun
kita untuk menyebar kebaikan, seperti dakwah. Ketimbang dakwah tentang galau
abis diputusin pacar, mending dakwah tentang bersyukur karena jomblo sampai sekarang.
Dalam hadist yang diriwayatkan Bukhari dari ‘Abdullah
bin Amr Al Ash yang bunyinya :
BALLIGHU ‘ANNI WALAU AYAH
“Sampaikanlah
dariku walaupun satu ayat.”
Hadist diatas menerangkan bahwa menyampaikan ilmu atau
dakwah itu tugas kita sebagai seorang muslim.
Kita dapat memanfaatkan media social kita buat
berdakwah. Namun berdakwah bukanlah sembarang dakwah. Kita menganggap dakwah
itu mudah. Namun bukanlah semudah yang difikirkan. Seperti saya dan peserta
da’I di sini. Sangatlah tidak mudah berdiri didepan sini menyampaikan dakwah.
Dapat kita perhatikan, bahwa apa yang kita tulis di media sosial tentang
kebaikan, haruslah dengan niat. Karena niat itu penting. Bahkan lebih penting
dari amal shaleh itu sendiri. Oh iya, berdakwah itu termasuk kita menolong
agama Allah loh, dan jika kita menolong agama Allah maka Allah pun akan kembali
menolong kita seperti dalam QS. Muhammad ayat 7
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا
اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ [٤٧:٧]
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama)
Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. “
Jadi jika kita menolong agamanya Allah, Allah pun akan
menolong kita dalam setiap urusan. Tapi ingat teman, setiap satu kata yang kita
tulis akan dipertanggungjawabkan di yaumul hisab. Apa yang kita tulis tentang
kebaikan, maka ikhlaslah dalam menulis setiap kata.
Namun terkadang masih banyak yang berdakwah dimedia
social tapi hanya karena mengharap like dan followers terbanyak. Apabila niat
awal kita berdakwah sudah seperti itu, maka lunturlah amalan kita untuk
berdakwah. Yang harusnya plus eh malah minus hanya karena niat. Dan apakah
mengharap like dan followers terbanyak termasuk dakwah dengan ikhlas? Tidak,
karena dia mengharap imbalan orang lain, jadi dakwahnya di lakukan tidak
semata-mata karena Allah tapi karena manusia. Banyak juga yang ingin dakwah di
media social tapi akunnya di privacy. Untuk apa coba berdakwah tapi akun masih
di privacy? Mau dakwah untuk diri sendiri, Neng? Kalau mau dakwah untuk orang
lain, buka tuh gemboknya, ilmu itu jangan di pendam sendiri. Terkadang juga
banyak komentar sana sini yang cukup melukai hati. Ada banyak yang menertawakan
setiap kita berdakwah. Hey teman, jika ada yang menertawakan dakwah kita, ingat
firman Allah dalam QS. Mutaffifin ayat 29
إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ
آمَنُوا يَضْحَكُونَ [٨٣:٢٩]
Sesungguhnya orang-orang yang
berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.
Jadi abaikan saja mereka yang menertawai kita, atau
bagusnya kita jadikan aja itu sebagai bentuk penyemangat buat kita.
Teman-teman menyampaikan ilmu tidak terukur besarnya
atau tingginya ilmu kita. Menyampaikan ilmu tidak perlu kita menjadi ustadz
atau ustadzah. Menyampaikan ilmu tidak harus punya jabatan tinggi. Tidak ada
salahnya kita berbagi ilmu, karena ilmu itu akan bermanfaat apabila kita mau
berbagi. Dan sesungguhnya menyebarluaskan ilmu termasuk amalan yang
mendatangkan kebaikan setelah kita wafat. Di zaman modern ini, kita bisa dengan
mudah berbagi ilmu. Kapanpun, dimanapun, apapun temanya, dengan siapapun,
bagaimanapun caranya, kita bisa.
Dan pesan dari saya, manfaatkan akunmu, manfaatkan media
sosialmu sebagai media penebar kebaikan sebagai media kita beramal. Jangan Cuma
perasaan aja yang di post. Ilmupun harus di post. Dakwahpun juga harus dipost.
Tebarlah kebaikan kapanpun dan dimanapun kita berada. Seperti firman Allah dam
QS. Ali-Imron ayat 104 :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى
الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [٣:١٠٤]
Dan hendaklah ada di antara kamu
segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan
mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS.
Ali-Imron : 104)
Semodern nya zaman secanggihnya zaman, tetap dakwah
kita laksanakan. Dakwah tak boleh terhenti. Hidup untuk dakwah. Allahu akbar.
Cukup sekian tausiyah dari saya, semoga bermanfaat dan
menjadi pedoman bagi kita untuk terus berdakwah.
Illalliqo, wa billahi taufik wal hidayah
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Komentar
Posting Komentar