Senja yang Berjiwa Muda
Oleh
Shanti Nur An-nisa
Semangat tak hanya dimiliki anak
muda saja, yang tua rentapun juga punya semangat. Memiliki tokoh inspirator itu
sangat perlu, karena kelak merekalah yang akan membantu kita menemukan masa
depan, entah itu secara langsung ataupun tidak. Apalagi tokoh itu nyata di
kehidupan kita, apalagi tokoh itu ada didekat kita, apalagi tokoh itu selalu
mendatangi kita tanpa kita minta, pastilah hidup akan penuh dengan semangat-semangat
juang untuk menggapai cita-cita. Tokoh inspirator yang begitu bijaksana akan
membuat hati terasa aman dan tenang. Dan semua itu, terjadi dalam kehidupan ku
saat ini. Insyaallah.
***
Assalamu'alaikum
guys! Kenalin aku Shanti Nur An-nisa, aku populer dengan panggilan Shanti di
sekolahan terkadang ada juga yang manggil Shantina, sedangkan di rumah aku
paling populer dengan sebutan Nisa ada juga anak-anak kecil manggil aku Disa.
Duh dasar anak-anak. Ah, ada panggilan khusus nih, Ann, yap itu panggilan
khusus buat ku dan dari diri ku sendiri (nyengir kuda). Dan saat ini aku sedang
menjalani kewajiban ku sebagai seorang muslim. Yaitu menuntut ilmu. Yah, aku masih
sekolah. Lebih tepatnya aku masih kelas XI, tepat kuadratnya kelas XI MIA 6 di
Sma N 2 Wonogiri, ya aku sekolah disana. Sekolah yang menurut ku seperti itu (
ada gambar ilustrasi di atas kepala ku). Nah seperti itulah gambaran
sekolah ku. Dan sekarang, enggak tapi dari dulu aku tinggal di istana megah
yang cukup sederhana, aku tinggal di kota gaplek, alias Wonogiri, tepatnya di
dusun Mojoreno Lor, desa Mojoreno (mungkin buah Maja yang beraneka macam
jenisnya), rt 04 rw 02 , kecamatan Sidoharjo, kabupaten Wonogiri, provinsi Jawa
Tengah, pulau Jawa. Itu alamat istana surga ku. Nggak jauh kok dari sini.
"Sini mana?" Tanya makhluk astral.
"Sini Mojoreno."
"Mojoreno? Huh pelosok.."
"Gue nggak nanya siapa elo, dimana alamat elo,
sekolah dimana elo, dan gue nggak butuh informasi tak penting cem itu."
Ucap sosok makhluk misterius yang lain.
"Siapa sih lo? Kalo nggak butuh ya udah. Pergi
sono! Gue juga nggak butuh readers kek lo!" Sahut ku sedikit kit
kit (kit sepeda motor) emosi.
Oh ya, ini tuh ceritanya aku eh
nggak ding, bukan aku tapi kita siswa kelas XI MIA 6 (dia, dia dan aku) diminta
membuat cerpen yang menceritakan seseorang yang dikagumi. Teman-temanku ada
yang membuat cerpennya tuh tentang seorang pujaan hatinya ( duh love monkey dong, nggak guna juga nyeritain sang pujaan
hati. Aku bilang gini bukannya aku kaga punya pujaan hati, aku juga punya
seorang pangeran tampan yang turun dari surga, Dia saat ini sedang berada disana,
entah dekat entah jauh. Aku sangat setia sama Dia. Bukti kesetiaanku padanya
yaa ini, sampai saat ini aku selalu berusaha menjaga kesucian hati ini. Tapi
sayang, aku belum tau siapa Dia. Yang jelas Dia lah yang kelak akan selalu
bersama ku sampai takdir memisah kita, ciee )
"Yah
curhat dia, haha.." suara itu muncul lagi.
"Bosen gue denger suara lo."
Ada juga teman ku yang bercerita
tentang seorang guru (siiplah, guru itukan teladan bagi siswa), ada yang
menceritakan tokoh-tokoh pahlawan (ini juga oke), ada juga yang menceritakan
para artis korea (duhh, k-popers bosen aku), ada juga yang menceritakan
orang tuanya (aku kasih sepuluh jempol buat kamu yang menceritakan ortu), dan
mungkin juga ada yang menceritakan tentang aku.
"Ih pede gila. Ada istimewanya kah elo? Gak ada
tauk!" Suara sosok makhluk kedua kembali menyusup telinga ku.
"Siapa sih lo itu. Dari tadi ganggu mulu deh.
Iye gue kaga ade istimewanye. Puas lo? " sahut ku geram.
"Duh, lo kok bacot sih? Kapan selesainya nih
cerpen abal-abal?" Suara makhluk ketiga ikut-ikutan, kasar juga
omongannya.
"Duh, siapa lagi sih itu. Ikut-ikutan
aja. Iye iye nih gue lanjut cerpen abal gue! Protes mulu!" Jawab ku dengan
sebal.
"Maafkan iklannya ya guys, dimaafin kan?
Pastilah ya. Hehe.. oh ya kalian tau nggak siapa yang aku jadiin korban di
cerpen ku?"
"Enggak, nggak tau dan nggak mau tau."
"Kembali lagi tuh sosok makhluk astral.
Udah ah abaikan aja."
Itu tadi sebagian cerita dari teman-temanku
sedangkan ku, aku akan menceritakan tentang seorang kakek yang begitu
menginspirasi ku. Ku kagum pada kakek itu. Beliau salah satu tokoh dari seribu
tokoh yang aku kagumi.
"Hiperbola dia."
"Lagi, lagi dan lagi
iklannya lewat. Abaikan aja guys."
Pokoknya beliau menginspirasi aku
banget deh. Beliau adalah sosok kakek yang bijaksana, pernah aku berharap bahwa
beliau adalah kakekku, yang setiap hari mengobrol ringan bersama, bercanda
bersama, mengobrol masa depan dan lain-lain.
"Kalian semua pada penasaran nggak siapa beliau
sampai-sampai bisa membuat aku jadi begini?" Tanyaku pada readers .
Readers menjawab
"Enggak!!!"
"Jawaban yang menyakitkan." Kesalku
dalam hati.
"Oke kalau begitu buat yang penasaran aja, baca
yuk ceritaku. Ok. Check it down guys! "
"Sok english lo."
"Lo ndiri aja gitu, pake ngatain orang. Absurd
lo. "
Berikut ini ceritaku guys. Baca, pahami, dan amalkan
dengan baik. Ok.
***
Beliau adalah seorang kakek dengan
nama populer 'Mbah Ino'. Beliau memang sudah tua, tapi semangatnya mengalahkan
aku yang notabenenya anak muda yang seharusnya semangatnya tinggi setinggi
langit. Beliau diusianya yang telah senja, masih semangat mencari ilmu, ilmu
dunia dan ilmu akhirat. Beliau rajin mengkaji al-qur'an beserta terjemahannya.
Beliau selalu mencocokkan makna yang terkandung dalam al-qur'an dengan
kehidupan di dunia ini. Beliau juga tak pernah absen di dalam pengajian. Beliau
selalu memberi nasehat-nasehat bijaknya kepada semua cucu-cucunya, entah itu
cucu kandung ataupun cucu-cucuan saja. Aku termasuk salah satu cucu-cucuan beliau.
Beliau selalu menasehatiku untuk menjadi anak yang berbakti pada orangtua,
menasehatiku untuk jadi seorang pelajar yang cerdas dan jangan ketinggalan sholehahnya.
Tadi malam, sehabis sholat isya
beliau datang ke rumahku. Sudah pasti beliau ke sini untuk silaturahmi dan memberi
nasehat-nasehat buat aku ataupun anggota keluargaku yang lain (seperti abangku
yang paling tampan bin nyebelin, bapakku yang tegas ataupun emakku yang sabar
jangan ketinggalan adekku yang nyebelin kuadrat). Tadi malam beliau mengobrol
dengan ku. Banyak topik dalam obrolanku dengan Mbah Ino. Salah duanya mengobrol
tentang hari qurban dan masa depan. Namun yang akan ku angkat ialah obrolan
tentang masa depan.
Aku bertanya pada beliau, "Mbah si Iin nanti
kuliah mau ambil jurusan apa? "
Iin itu cucu kandung beliau yang seumuran dengan ku.
"Hla dia ipa ya nanti ambilnya mungkin
bersangkutan dengan ipa." Jawab beliau singkat.
"Aku sebenarnya pengin keperawatan,
tapi.." sambil ku lirik bapakku, ku
gantung ucapan ku.
"Ya ra popo. Si Desi itu farmasi.
Adiknya analis, kalau analis itu orangnya harus cekatan, banyak diamnya,
pemikir juga. Nek kowe pilih perawat ndak papa. Perawat itu harus
pandai bicara, pandai bersosial, ramah, cekatan, terus harus tegelan.
Maksudnya tega lihat darah. Harus tegel perawat ki." Kata
beliau panjang kali lebar kali tinggi (volume balok dong?) yang ku simak dengan
seksama.
"Ya, tapi hehe.. bapakku..itu hlo mbah.."
ku gantung lagi kalimat ku sambil melirik bapak.
"Bapak belum kasih SIPF (Surat Izin
Pemilihan Fakultas)." Lanjutku dalam hati sambil melirik ke bapak yang
sedang menonton tv di dekat kamar. Ku lihat bapak juga ikutan noleh ke arahku,
Apaan sih
bapak ikut-ikutan noleh? " kesalku dalam hati.
"Ya bagus perawat ki." Lanjut Mbah
Ino.
Ku tanggapi dengan seulas senyum bahagia namun unsur
sedih tak tertinggal. Aku senang ada orang yang setuju dengan pilihanku, namun dibalik
senyum manisku, ada kesedihan disana, aku sedih bapak masih belum mengizinkanku
masuk keperawatan.
"Kamu ki cerdas sa, asal mau mengaji. Kaji
terus al-qur'annya, baca artinya, cocokkan dan rasakan dengan kehidupan yang
kamu hadapi saat ini."
Nasehat bijak beliau keluar lagi lagi dan
untuk kesekian lagi. Aku tanggepin dengan seulas senyum manisku, lagi
dan lagi.
"Insyaallah Mbah." Jawabku singkat.
Beberapa minggu yang lalu, beliau berpesan buatku,
"jadilah anak yang sholehah, yang berbakti pada
orangtua, rajin mengaji, tetap semangat belajar, sesulit apapun tetap
berusahalah, kamu dengarkan, perhatikan dan amalkan apa yang Mbah ucapkan, Mbah
ki udah tua Mbah menang pengalaman. Dan kamu harus mewujudkan. Semua
kunci terletak pada kebaktianmu terhadap orangtuamu dan jangan lalai membantu
orangtua hlo, sa." Nasehatnya beberapa minggu lalu.
"Insyaallah Mbah, insyaallah akan
saya lakukan semampu dan semaksimalnya. Doakan saya jadi anak yang sukses dunia
akhirat, bisa membahagiakan orangtua.” Duh kalo yang terakhir aku kesindir
guys. Jujur aja guys, aku jarang ngebantu ortuku, paling aku cuma nyuci pakaian
kalo ada waktu aja, nyapu cuma sehari sekali, ngepel kalo lagi ada mood ngepel,
masak? Jangan tanya, aku masak cuma buat aku sendiri dan masaknya juga cuma pas
mau sahur. Cuci piring? Jangan tanya lagi guys, aku cuma pernah nyuci
piring. PERNAH. Ya cuma P.E.R.N.A.H . Biasanya dirumah yang cuci piring tuh
abangku tercinta, tapi sayang abangku lagi jauh disana. Jawabku hari ini, pagi
ini, jam ini, menit ini, detik ini juga, tanpa ada ojek eh maksudku objek, iasda
objek. Alias ngomong sendiri guys.
“Duhh, dah gila dia. Bener-bener gila. “
“Iya gue emang gila. Nggak papa gue gila, karena
kalo gue gila diobati ntar gue sembuh juga, daripada gue waras tapi gara-gara
tugas gue jadi gila trus ias juga langsung mengajukan diri kepada Sang Khaliq. Naudzubillah.
Jangan guys, jangan sampai gara-gara tugas kita malah mengajukan diri begitu.
Jangan sampai. Ok. Gue nggak bakal gitu juga kok. Insyaallah. Hehe..”
***
Nah, itu sebagian dari ceritaku
tentang sosok Mbah Ino yang bijaksana. Dari semua ini bisakah kalian semua
menyimpulkan bagaimana itu sosok Mbah Ino di mata kalian? Kalau belum kalian
semua bisa datang ke dusun Poh Gedhe, desa Mojoreno, rt nya tak tau rw nya juga
tak tau, kecamatannya Sidoharjo, kabupatennya Wonogiri, provinsinya Jawa
Tengah, pulaunya pulau Jawa, negara Indonesia, benua Asia Tenggara. Pokoknya
rumahnya disana. Rumahnya sederhana. Nanti kalian bisa menyimpulkan sendiri
bagaimana sosok Mbah Ino itu. Okkey. Pahamkan kalian? Oh iya, nanti sekalian
mampir my sweet home ya. Deket kok
paling cuma 100000 langkah kaki dari rumah Mbah Ino. Tadi juga udah aku kasih
alamatnya kan?
"Enggak. Nggak paham gue. Terus ngapain juga
gue jauh-jauh pergi ke Sidoharjo? Buang-buang duit tauk!!" Sahut dia yang
entah berantah dia siapa lagi.
"Sok english binggo."
Rusak gendang telingaku dengar suara-suara kek gitu.
Dia lagi pangkat 4. Kalian tau siapa dia, dia, dan dia
yang satunya lagi? Mungkin kalian akan
tau siapa mereka setelah kalian masuk ke dunia cerpen abalku ini.
"Hey! Lo! Yang pake jaket abu-abu jaketnya
cowo, terus pake jam tangan warna pink, lo banyak omong! "
"Kapan selesainya nih cerpen abal lo? Bosen gue
baca tulisan lo, muak gue!" Suara sosok misterius itu lagi pangkat
5.
"Duh, Allah sebegitu buruknya hamba, sebegitu
susahnya menulis. Sekarang aku tau rasanya kalau ceritamu tak di sukai readers,
maafkan lah aku readers, aku hanyalah seorang siswa yang diberi tugas
membuat cerpen. Jadi aku ini bukanlah seorang penulis profesional. Aku masih
pemula, jadi harap maklum. Kalau kalian nggak suka, maka nggak usah repot-repot
baca. Gitu aja repot. Daripada buang tenaga hanya buat menghina, mending diam. “Diam
Itu Emas.” Pernah dengerkan pepatah itu? Pasti pernah. Nah lebih baik
yang ndak suka diem aja daripada ntar malah dapet dosa? Iye kan? "
"Ah Shanti, lo lama deh."
"Gila tuh orang, malah ceramah dia."
"Ceramah bu haji? Kalo mau ceramah di mimbar
sana! "
"Haha..ada yang ceramah nih guys. Dengerin
baik-baik tuh. Kasihan ustadzahnya capek bicara. Dah haus dia."
"Duh, Allah sakitnya tuh disini didalam
hatiku. Hiks, nggak gue pasti tegar eh nggak ding gue shanti bukan tegar
yang nyanyi aku yang dulu bukanlah yang sekarang . Duh, kambuh gilanya.
"
"Dah dari dulu kali lo gila."
"Apalagi itu, gue pulang aja dah sakit gue
lama-lama disini." Gerutu gue.
"Yap, pulang aja sono."
Ku hela nafasku dengan panjangnya, "huh.."
Oke deh guys. Cukup itu aja gambaran
sosok Mbah Ino yang aku kagumi, yang menginspirasi aku banget. Aku udah capek
nih guys mau bobok cantik dulu, dah jam 23.14 juga. Eh tunggu dulu, sebelumnya
aku mau ngasih amanat buat aku sendiri dan buat kalian semua. Kan setiap cerita
pasti mengandung unsur instrinsik kan? Terus amanat termasuk unsur instrinsik
kan? Nah dengarkan baik-baik, eh salah baca baik-baik ya amanat dariku.
Semangat menuntut ilmu tak mengenal jiwa
muda ataupun tua.
Jadilah sejiwa yang menginspirasi seribu
enggak bahkan jika bisa sejuta jiwa.
Jadilah insan yang bermanfaat bagi
keluarga, teman, sekolah, masyarakat, nusa, bangsa, pacar jangan sampai kecer
(sst.. bagi yang ada pacar saja, kalo gue bukan pacar gue tapi pangeran gue.
Duhh, panas. Tapi pacaran itu dosa ding guys, bersyukurlah kalian yang masih
alone . Kalo gue, gue nggak alone tapi nggak juga pacaran. Simpulkan aja
ndiri.)
Okey, thanks guys atas waktu yang telah kalian sia-siakan
hanya buat baca cerpen absurd ku ini. Sekarang aku otw sleeping beauty, jangan lupa do'a ya guys, biar nanti ketemu
pangeran tampanku (just kidding). Moga bermanfaat ya guys.
Sekian dan wassalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh!
Aufwiedersehen J
Komentar
Posting Komentar